Suatu hari ada sebuah
perlombaan di dunia katak. Para katak berlomba untuk menaiki sebuah pohon
tertinggi di hutan mereka. “Barang siapa yang bisa menaiki pohon itu, maka dia
akan mengantikan ku sebagai Raja Katak di hutan ini”, teriak Raja Katak kepada rakyatnya.
Namun, melihat hal tersebut mustahil hanya lima ekor katak paling pemberani
yang mau mengikuti seyembara tersebut. Dan lima ekor katak pemberani itu pun
mulai beraksi.
Warga yang ketakutan
terjadi sesuatu pada mereka pun mulai tegang. Di lima meter pertama seekor
katak berkata dari bawah “Hentikan. Kalian bisa mati bila terjatuh. Ayo turun.
Ini berbahaya.”. Mendengar hal tersebut dua ekor katak turun perlahan dan
memutuskan untuk keluar dari pertandingan sementara tiga lainnya masih berjuang
menaiki pohon tersebut. di ketinggian 10
m, para penonton mulai semakin tegang. “Turun. Semakin tinggi kalian naik maka
kalian akan jatuh jauh lebih sakit. Cepat turun.”, teriak sekerumunan wanita
ketakutan melihat aksi tersebut. Dua
ekor katak pun turun pelahan mendengar teriakan tersebut yang langsung disambut
tepuk tangan para penonton. Namun katak terakhir terus naik dan tidak
menghiraukan teriakan penonton. “Turun. Kau juga tidak akan menjadi raja bila
kau mati”, “Kau gila? Cepat turun. Kau bisa mati bila kau jatuh” berkali seruan
ini keluar dari mulut penonton dan saling menimpali.
Namun katak kecil yang
sudah mulai kelelahan itu pun terus naik dan tidak menghiraukan perkataan
penonton. Melihat langkah kaki katak kecil itu mulai melambat karena kelelahan,
terikan yang menyerukan katak tersebut agar turun semakin besar. Lagi-lagi
katak kecil tersebut tidak menghiraukan perkataan para penonton dan terus
barjalan mendekati puncak pohon yang semakin dekat.
Seekor katak betina
setengahbaya terus berdoa. Dua meter mendekati puncak pohon, teriakan yang
menyerukan turun kini berubah menjadi doa. Doa agar katak kecil itu selamat.
Doa penonton itu pun terkabul. Akhirnya sang katak berhasil menyentuh batang
puncak pohon tersebut. Setelah sampai bawah, para penonton tidak sabar untuk
menanyakan kenapa ia begitu berani dan kuat. Katak kecil pun langsung ditimpali
banyak pertanyaan. Namun ia hanya diam. Lalu seorang wanita yang sejak awal
pertandingan berdoa, menghampiri katak tersebut dan berkata, “Ia adalah anakku”
dengan linangan air mata. “Ia berhasil sampai puncak karena ia tuli. Dia tidak
mendengarkan teriakan negatif kalian”. Para penonton tercengang dan mulai
merasa bersalah.
Cerita ini memberikan
gambaran bahwa sering kali pandangan dan pendapat negatif orang yang meragukan
kemampuan anda membuat anda jatuh dan menghapus impian anda. Sering kali
kekurangan yang anda miliki, kemiskinan, kekuarangan fisik, dan keterbatasan
lain menyebabkan orang lain memandang rendah anda.
Hal yang paling
disayangkan adalah anda mendengarkan perkataan negatif tersebut dan
mengamininya. Alhasil semua menjadi kenyataan. Anda adalah orang yang lemah,
anda bodoh, dan anda tidak mungkin mengapai impian anda. Semua itu menjadi
nyata bila anda mendengar dan mengamininya.
Orang-orang yang
memberikan label negatif hanyalah penonton dalam hidup hidup anda. Anda lah
pemain dalan hidup anda. Seberapa besar sorakan penonton dalam suatu
pertandingan tidak akan berdampak apapun bila sang pemain tidak mendengarkan
sorakan para penonton. Anda pemainnya dan anda yang menentukan jalannya
pertandingan, bukan penonton.
Ketika mendengar
kata-kata negatif ditujukan untuk anda yang perlu dilakukan adalah membuktikan
bahwa perkataan itu salah. Jadikan pandangan negatif ini sebagai tantangan
untuk lebih baik dan lebih maju lagi. Jadikan perkataan negatif ini sebagai
motivasi penyemangat untuk anda. Anda tidak perlu membantah perkataan mereka
yang perlu anda lakukanan adalalah membuktikan bahwa perkataan mereka salah.
Tunjukan bahwa anda dapat melakuakn hal yang meraka ragukan.
Bayangkan bila anda
tuli dan tidak mendengarkan kata-kata negatif yang ditujukan untuk anda. Apakan
anda akan tetap menjaga impian anda? Bila anda terus menjaga impian anda dengan
baik, yakinlah impian itu akan menjadi kenyataan. Anda adalah orang yang paling
mengerti kemampuan anda. Jangan pernah biarkan orang lain memandang remeh.
Walaupun demikian anda
tidak bisa sepenuhnya menutup telinga anda terhadap semua kritikan. Terkadang
anda harus belajar mendengarkan dan memilih, mana yang akan anda teriam atau
tolak. Mungkin cerita berikut dapat memberi gambaran kepada anda.
Umar baru saja membeli
keledai dari pasar. Wajahnya sangat gembira. Ia menuntun keledainya pulang. Di
tengah perjalanan ia bertemu seorang pria setangah baya dan berkata “Umar,
bodoh sekali kamu. Kenapa kamu hanya menuntun keledai kamu, kenapa kamu tidak
menaikinya menuju rumah. Keledai itu untuk dinaiki bukan cuma dituntun.”
kritiknya. Mendengar ucapan
itu, Umar lalu menunggangi keledainya. Selang beberapa meter ia kembali
bertemu seorang wanita yang memberika kritik “ Wahai Umar, tega sekali kamu
menunggangi keledai kurus yang menyedihkan seperti itu. Dasar kamu seorang
laki-laki yang jahat”.
Mendengar ucapak kedua orang tadi Umar bingung, dan memutuskan untuk pulang ke rumah dengan mengendong keledai kecil yang ia beli. Lagi-lagi ia mendapatkan kritikan. “Hahaha...Lihat pria bodoh itu, ia pulang dengan mengendong keledai. Aku tidak habis pikir. Siapa yang lebih bodoh dari keledainya saat ini” ejek anak kecil bersama teman-temannya. Umar semakin bingung. Apa yang harus ia perbuat. Akhirnya ia memutuskan untuk melepas keledainya. Melihat hal tersebut seorang pria lagi-lagi memberikan ia kritik “Kenapa kamu lepaskan keledai kamu. Kenapa Kamu tidak membawanya pulang”. Kini Umar tidak dapat berbuat apa-apa karena keledai yang ia miliki sekarang telah pergi jauh.
Mendengar ucapak kedua orang tadi Umar bingung, dan memutuskan untuk pulang ke rumah dengan mengendong keledai kecil yang ia beli. Lagi-lagi ia mendapatkan kritikan. “Hahaha...Lihat pria bodoh itu, ia pulang dengan mengendong keledai. Aku tidak habis pikir. Siapa yang lebih bodoh dari keledainya saat ini” ejek anak kecil bersama teman-temannya. Umar semakin bingung. Apa yang harus ia perbuat. Akhirnya ia memutuskan untuk melepas keledainya. Melihat hal tersebut seorang pria lagi-lagi memberikan ia kritik “Kenapa kamu lepaskan keledai kamu. Kenapa Kamu tidak membawanya pulang”. Kini Umar tidak dapat berbuat apa-apa karena keledai yang ia miliki sekarang telah pergi jauh.
Lakukanlah hal baik
yang bisa kamu lakukan. Jangan hiraukan kritikan dari orang di sekelilingmu
apabila kamu beranggapan hal yang kamu lakukan benar. Itu sebabnya Tuhan
menciptakan telinga manusia lebih dekat dengan otak dari tangan dan kaki, agar
manusia dapat memikirkan terlebih dahulu apa yang ia dengar, sebelum ia
mengerjakan sesuatu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar